Full article

Pengrajin Kayu Jati, Merajai Khas Furnitur Indonesia

SRAGEN, SP - Jika berkunjung di Kota Solo, Jawa Tengah, sempatkan diri mampir di Kabupaten Sragen, tepatnya Kecamatan Kalijambe. Di sini akan disuguhkan oleh berjajar para pengrajin kayu jati khas Sragen yang telah merajai khas furnitur serta terkenal di Indonesia.

Bahkan produk furnitur yang ada dapat lebih murah daripada produk Jepara, dengan model dan kualitas tidak kalah bagusnya.

Perjalanan dari Solo memakan waktu sekitar satu jam dapat ditempuh, dari kejauhan akan terlihat sebuah kursi besar berdiri tegak di pinggir jalan dimana para pengrajin dan penjual kayu jati memamerkan produknya.

Jika melihat keberadaan Kabupaten Sragen terutama di Kecamatan Kalijambe, memang melimpah sumber daya alam berupa pohon jati yang banyak tumbuh di setiap sudut tanah yang ada. Kesediaan bahan baku kayu jati inilah yang dimanfaatkan oleh penduduk setempat untuk dijadikan aneka furnitur berbagai bentuk.

Serupa dengan konveksi, industri mebel terbesar di Sragen berlokasi di Kecamatan Kalijambe. Selain itu, industri mebel dalam skala relatife besar juga dapat ditemui di Kecamatan Gemolong, Miri, Sumberlawang, dan Sambungmacan.

Bahan baku mebel Sragen berasal dari kayu jati, mahoni,pinus, akasia. Penggunaan bahan kayu dengan ragam jenis berbeda ini dimaksudkan untuk mengurangi ketergantungan bahan baku pada satu jenis kayu, terutama jati.

Untuk mendukung perkembangan industri mebel, pemerintah Kabupaten Sragen telah menyediakan lokasi industri mebel dan kerajinan yang bekerjasma dengan Asosiasi Industri Permbelan dan Kerajinan Indonesia (ASMINDO) Komisariat Daerah (Komda) Surakarta.

Di bidang produksi mebel dan kerajinan berbahan kayu keras, pemerintah membentuk Sragen Javaniture (SJ). SJ merupakan pusat pelatihan produksi dalam rangka mengembangkan usaha dan sumber daya manusia.Dengan modal awal US$ 300 ribu SJ berkembang cukup sehat.

Kerjasama dengan berbagai pihak pun berhasil dijalin, sementara pasar terus dikembangkan. SJ mampu memproduksi berbagai jenis furniture. Jenis indoor furniture misalnya SJ biasa memproduksi meja,kursi, buffet, cabinet, box,dan lain sebagainya.

Jenis outdoor furniture, SJ memproduksi folding chair, outdoor chair, streamer & lounger,folding table, extention table, fixed table,planter, dan lain-lain. Tak hanya pasar local, saat ini produk SJ telah merambah pasar luar negeri, antara lain Perancis, Belanda, AS, dan negara-negara ASEAN.

Kalijambe- Kabupaten Sragen tidak dikaruniai sumber daya alam yang melimpah. Namun pemerintah dan masyarakatnya berkomitmen untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia.

Seperti yang dilakukan masyarakat di desa Banaran, Kecamatan Kalijambe ini berusaha memanfaatkan keahlianya di bidang pertukangan/ furniture.

Lebih dari 75% penduduknya merupakan pengrajin meubel/ furniture yang sebagian besar memang dijadikan mata pencaharian utama.

Kebanyakan pengrajin mendatangkan bahan baku dari Pacitan, Wonogiri hingga ke wilayah Banyuwangi Jawa Timur. Jenis kayu yang sering dipakai adalah kayu jati dan akasia.

Menurut Nasir salah seorang pengrajin mebel jenis kayu jati ada 3 yaitu: jati UD, jati UP, dan jati DL, sedangkan 1 kubik kayu tersebut harganya bisa mencapai Rp 1.000.000 – Rp 2.800.000. Kesetabilan harga bahan baku memamg dirasa menjadi kendala yang cukup besar, harga kayu cenderung naik sedang hasil kerajinan cenderung stabil.

Dalam kesempatan itu, Maryono salah satu pengrajin mengungkapkan dari bulan Oktober – Pebruari bahan sangat sulit didapat, kalaupun ada harganya sangat tinggi.

Pengrajin khusus kursi dan lemari ini bisa menjual 10 set kursi dalam 1 minggu, dengan 4 tukang dan kesediaan bahan yang cukup.

Kendala modal juga dirasa menjadi prioritas yang penting, karena rata- rata pengrajin melakukan pinjaman modal secara pribadi ke bank, dengan bunga yang besar dan hasil penjualan yang biasanya langsung dipesan toko mebel dengan harga yang rendah.

Lain halnya, dengan Widodo pengrajin mebel dengan 10 orang karyawan ini mampu memproduksi berbagai jenis mebel/ furniture, seperti: macam macam model kursi, almari, tempat tidur, ayunan.

Sistim penjualanya pun tidak melalui pengepul/ toko sehingga harga cenderung bisa stabil, kalaupun harga di pasar rendah dia mampu menampung/ menahan sampai harga naik.

Tidak semua pengrajin mampu melakukan hal tersebut dikarenakan faktor permodalan yang kecil, di tambah lagi belum adanya satu kelompok pengrajin menjadikan harga bisa tidak sama.

Dalam berbagai kendala yang dihadapi pengrajin mebel di Desa Banaran Kecamatan Kalijambe masih mampu bertahan dan menjadikan usaha kerajinan mebel ini menjadi mata pencaharian utama.

Tak hanya itu adanya kerajinan ini juga mampu menciptakan lapangan kerja sendiri tanpa harus meninggalkan lingkunganya sehingga secara tidak langsung bisa membangun perekonomian dan meningkatkan kesejahteraan bangsa, khususnya Pemerintah Kabupaten Sragen.

PENULIS

Comments